Biografi Bung Tomo: Api Semangat Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya

Tabel Ringkasan Biografi Bung Tomo
Nama Asli Sutomo
Nama Populer Bung Tomo
Tanggal Lahir 3 Oktober 1920
Tempat Lahir Kampung Blauran, Surabaya, Jawa Timur
Tanggal Wafat 7 Oktober 1981 (usia 60 tahun)
Tempat Wafat Padang Arafah, Arab Saudi (saat menunaikan ibadah haji)
Tempat Pemakaman TPU Ngagel, Surabaya (sesuai wasiat, bukan di TMP)
Ayah Kartawan Tjiptowidjojo
Ibu Siti Hatijah / Subastita (berdarah campuran Jawa, Sunda, Madura)
Agama Islam
Pendidikan HIS, MULO (tidak tamat), HBS via korespondensi
Profesi Jurnalis, Aktivis, Pemimpin Perjuangan, Politisi
Organisasi KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia), Parindra, BPRI (Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia)
Jabatan Utama Ketua Umum BPRI; Pemimpin Redaksi Antara (1945); Wakil Pemimpin Redaksi Kantor Berita Domei (1942–1945)
Jabatan Politik Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran & Menteri Sosial Ad Interim (1955–1956); Anggota DPR (1956–1959)
Peristiwa Utama Pertempuran Surabaya / Pertempuran 10 November 1945
Semboyan Terkenal "Merdeka atau Mati!"
Gelar Pahlawan Nasional 10 November 2008, Keppres No. 041/TK/Tahun 2008 (diserahkan Presiden SBY)

Pengantar: Siapa Bung Tomo?

Jika ada satu suara yang paling bergetar, paling membakar, dan paling diingat sepanjang sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, maka suara itu adalah suara Bung Tomo. Lewat gelombang radio yang menembus kesunyian malam Surabaya pada awal November 1945, ia berhasil menyulut api perlawanan yang tidak pernah padam — bahkan hingga hari ini. Namanya menjadi sinonim dari keberanian, semangat pantang menyerah, dan cinta tanah air yang tiada batasnya.

Bung Tomo, yang bernama asli Sutomo, lahir di Kampung Blauran, Surabaya, pada 3 Oktober 1920. Dalam usianya yang tergolong muda, ia telah berhasil melampaui batas kemampuan seorang manusia biasa: berjuang dengan senjata yang paling ampuh yang ia miliki — suaranya — untuk menggerakkan ribuan orang agar berdiri, mengangkat senjata, dan memilih mati demi kemerdekaan daripada hidup dalam kehinaan di bawah penjajahan.

Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang ia pimpin bersama rakyat dan para pejuang kota itu kini diakui sebagai salah satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia. Tanggal tersebut kemudian diabadikan sebagai Hari Pahlawan — sebuah pengakuan abadi atas pengorbanan Bung Tomo dan seluruh pejuang Surabaya yang memilih merdeka atau mati. Artikel biografi ini akan mengupas tuntas perjalanan hidup sang pahlawan: dari kelahirannya di gang-gang sempit Surabaya, perjuangannya di hadapan mikrofon radio, hingga napas terakhirnya yang diembuskan di tanah suci Arafah.

Kelahiran dan Kehidupan Awal

Sutomo — yang kelak lebih dikenal luas dengan nama Bung Tomo — dilahirkan di Kampung Blauran, pusat kota Surabaya, pada tanggal 3 Oktober 1920. Ia merupakan putra dari Kartawan Tjiptowidjojo, seorang kepala keluarga dari kelas menengah yang pernah bekerja sebagai staf pribadi di perusahaan swasta, asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai di bidang ekspor-impor Belanda. Sementara ibunya, yang dikenal dengan nama Siti Hatijah atau Subastita, adalah perempuan berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura — perpaduan yang turut membentuk karakter Bung Tomo menjadi pribadi yang tangguh, ekspresif, dan bersemangat tinggi.

Keluarga Bung Tomo adalah keluarga yang sangat menghargai pendidikan dan menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan. Meski tidak tergolong keluarga kaya raya, mereka memastikan anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik sesuai kemampuan. Sutomo kecil bersekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS) — sebuah sekolah berbahasa Belanda untuk anak-anak pribumi pada masa kolonial — sebelum kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), setara dengan SMP pada masa kini.

Namun, pada usia 12 tahun, Sutomo terpaksa meninggalkan bangku MULO karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak mendukung — diperparah oleh dampak depresi ekonomi dunia yang melanda pada awal 1930-an. Untuk membantu keluarganya, ia melakukan berbagai pekerjaan kecil-kecilan. Namun semangat belajarnya tidak pernah padam. Ia kemudian mencoba menyelesaikan pendidikan Hoogere Burgerschool (HBS) setingkat SMA melalui jalur korespondensi, meskipun tidak pernah secara resmi lulus. Ini tidak menghalanginya dari terus menimba ilmu secara mandiri — membaca buku-buku sejarah, politik, dan perjuangan kemerdekaan dengan penuh keingintahuan yang tak terpuaskan.

Satu hal yang paling menentukan perkembangan karakter Bung Tomo pada masa kecilnya adalah pengaruh kakeknya, yang dikenal sebagai sosok pengganti pendidikan formal baginya. Dari sang kakek, ia menyerap nilai-nilai kepanduan, nasionalisme, dan kesadaran berbangsa yang menjadi fondasi seluruh perjuangannya di kemudian hari. Tak heran jika pada usia 17 tahun, Sutomo muda berhasil meraih gelar Pandu Garuda — peringkat tertinggi dalam organisasi kepanduan — menjadikannya orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai prestasi bergengsi tersebut.

Masa Muda: Jurnalis, Aktivis, dan Orator

Masa muda Bung Tomo adalah masa pembentukan yang begitu padat dan penuh warna. Sejak remaja, ia telah menunjukkan bakat yang luar biasa dalam dua bidang yang kelak menjadi senjata utamanya: menulis dan berbicara di depan umum. Di usia 17 tahun yang sama ketika ia meraih gelar Pandu Garuda, Bung Tomo juga dipercaya menjadi Sekretaris Partai Indonesia Raya (Parindra) Cabang Tembok Duku, Surabaya — sebuah tanggung jawab yang sangat besar untuk seorang pemuda seusianya.

Karier jurnalistik Bung Tomo dimulai sebagai wartawan di harian Soeara Oemoem (Suara Umum) Surabaya, tempat ia menuangkan gagasan-gagasan nasionalismenya dalam tulisan-tulisan yang tajam dan berani. Tulisannya yang kritis terhadap penjajahan Belanda dan penuh semangat kemerdekaan segera menarik perhatian banyak pembaca, sekaligus membuatnya dikenal luas di kalangan pergerakan nasional. Bakat jurnalistiknya terus berkembang hingga pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), ia dipercaya menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Kantor Berita Domei di Surabaya — posisi yang memberikannya pemahaman mendalam tentang kekuatan media massa sebagai alat komunikasi dan propaganda.

Selain aktif di bidang jurnalistik, Bung Tomo juga bergabung dengan berbagai organisasi pemuda dan kepanduan. Ia aktif di Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) dan kemudian di Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). Pada tahun 1944, ia terpilih menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru yang disponsori oleh Jepang — sebuah posisi yang ia manfaatkan untuk memperluas jaringan dan memahami lebih dalam dinamika kekuasaan yang tengah berubah menjelang akhir Perang Dunia II.

Pengalaman berlapis yang diperoleh Bung Tomo dari dunia jurnalistik, kepanduan, dan aktivisme politik ini kelak terbukti sebagai bekal yang paling berharga. Ketika Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945 dan Indonesia segera menghadapi ancaman dari kekuatan asing yang ingin mengembalikan penjajahan, Bung Tomo telah siap — tidak hanya dengan semangat, tetapi juga dengan keterampilan, jaringan, dan visi yang matang.

Mendirikan BPRI dan Radio Pemberontak

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Bung Tomo bergerak cepat mengorganisasi kekuatan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan. Pada tanggal 12 Oktober 1945, ia mendirikan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) — sebuah laskar perjuangan yang ia pimpin langsung sebagai Ketua Umum. Dalam waktu yang sangat singkat, BPRI berhasil menarik simpati rakyat Surabaya dari berbagai kalangan, dengan jumlah anggota yang diperkirakan mencapai 3.500 orang. Angka yang luar biasa mengingat organisasi ini baru berdiri dalam hitungan minggu.

Namun kontribusi paling strategis Bung Tomo bukan hanya pada pembentukan laskar bersenjata, melainkan pada pendirian Radio Pemberontak di bawah koordinasi BPRI. Dengan latar belakangnya sebagai jurnalis yang memahami betul kekuatan media massa, Bung Tomo segera menyadari bahwa dalam perang modern, menguasai narasi dan mengobarkan semangat rakyat melalui gelombang udara sama pentingnya — bahkan kadang lebih penting — dari sekadar kekuatan senjata di medan perang. Radio Pemberontak menjadi corong utama perjuangan, menyiarkan pidato-pidato Bung Tomo yang membakar semangat ke seluruh penjuru kota dan bahkan ke pelosok Jawa Timur.

💡 Tahukah Kamu? Radio Pemberontak yang didirikan Bung Tomo adalah salah satu media penyiaran perjuangan paling berpengaruh di era Revolusi Nasional. Siaran-siarannya tidak hanya sampai ke telinga rakyat Surabaya, tetapi juga memengaruhi rakyat di berbagai daerah lain untuk ikut bersemangat mempertahankan kemerdekaan.

Latar Belakang Pertempuran Surabaya

Untuk memahami mengapa Pertempuran 10 November 1945 terjadi — dan mengapa Bung Tomo memainkan peran yang begitu sentral di dalamnya — kita perlu memahami situasi Surabaya dan Indonesia secara keseluruhan pada periode September hingga November 1945. Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Indonesia tidak serta-merta bebas dari ancaman penjajahan. Bangsa-bangsa kolonial Eropa, yang sebelumnya terusir oleh Jepang, kini berupaya kembali merebut wilayah jajahan mereka dengan membonceng pasukan Sekutu yang datang atas nama pemulihan perdamaian pasca-Perang Dunia II.

Di Surabaya, ketegangan mulai memuncak dengan kedatangan pasukan Sekutu (Inggris) yang di dalamnya terdapat unsur NICA (Netherlands Indies Civil Administration) — badan sipil Belanda yang dengan jelas memiliki agenda untuk mengembalikan kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia. Rakyat Surabaya yang sudah merasakan getaran kemerdekaan sangat tidak menerima kehadiran ini.

Insiden Hotel Yamato (19 September 1945) menjadi salah satu pemicu awal yang paling simbolis. Para pemuda Surabaya memanjat hotel tersebut dan merobek warna biru dari bendera Belanda yang dikibarkan di sana, meninggalkan hanya merah dan putih — warna bendera Indonesia. Tindakan berani ini memantik amarah pihak Belanda sekaligus membakar semangat nasionalisme rakyat. Situasi semakin memburuk ketika pada 30 Oktober 1945, Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby — pimpinan pasukan Inggris untuk Jawa Timur — tewas dalam sebuah insiden bersenjata di Surabaya.

Kematian Mallaby memicu reaksi keras dari pihak Sekutu. Pada tanggal 9 November 1945, Mayor Jenderal Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum kepada seluruh rakyat Surabaya: menyerahkan semua senjata yang telah direbut dari tentara Jepang, dan mengangkat tangan tanda menyerah, paling lambat pukul 06.00 pagi tanggal 10 November 1945. Ultimatum yang dianggap sebagai penghinaan terhadap martabat bangsa ini disambut dengan penolakan bulat oleh rakyat Surabaya — dan di situlah suara Bung Tomo menjadi penentu arah sejarah.

Pertempuran 10 November 1945: Kronologi Perjuangan

Sebelum Pertempuran: Pidato yang Mengubah Sejarah

Pada malam sebelum ultimatum berakhir, tepatnya pada 9 November 1945, Bung Tomo menyampaikan pidato bersejarahnya melalui Radio Pemberontak. Dengan suara yang bergetar namun penuh keyakinan, ia menyerukan kepada seluruh rakyat Surabaya untuk menolak menyerah. Pidato ini menjadi salah satu orasi paling legendaris dalam sejarah Indonesia — sebuah ungkapan yang memadukan keberanian fisik, kedalaman iman, dan cinta tanah air yang meluap dalam kata-kata yang hingga kini masih terasa getarannya.

10 November 1945: Perang Terbuka Meletus

Ketika ultimatum tidak dipenuhi, pada pagi hari tanggal 10 November 1945, pasukan Sekutu melancarkan serangan besar-besaran ke seluruh penjuru kota Surabaya. Mereka mengerahkan kekuatan militer yang sangat dahsyat: kapal perang, pesawat tempur, tank, dan ribuan infanteri terlatih. Di sisi lain, rakyat Surabaya menghadapi gempuran tersebut dengan senjata yang sangat tidak seimbang — bambu runcing, senapan hasil rampasan dari tentara Jepang, dan granat rakitan. Namun yang membuat pertempuran ini begitu epik adalah semangat yang tidak pernah goyah di dada para pejuang.

Bung Tomo memainkan peran ganda dalam pertempuran ini: sebagai pengobar semangat melalui siaran radio yang terus mengudara sepanjang pertempuran, dan sebagai koordinator perlawanan bersama tokoh-tokoh perjuangan lainnya. Siarannya disebarluaskan ke seluruh kota, dan bantuan bagi rakyat Surabaya pun berdatangan dari berbagai penjuru — baik dalam bentuk tenaga maupun logistik dari berbagai daerah di Jawa Timur bahkan dari pulau-pulau lain di Nusantara.

Kronologi Singkat Pertempuran Surabaya

Tanggal Peristiwa
19 Sep 1945 Insiden Hotel Yamato: Pemuda merobek bendera Belanda
12 Okt 1945 Bung Tomo mendirikan BPRI
27 Okt 1945 Perang pertama pecah di Surabaya (berlangsung tiga hari)
29 Okt 1945 Gencatan senjata ditandatangani atas mediasi Presiden Soekarno
30 Okt 1945 Brigadir Jenderal Mallaby tewas dalam insiden bersenjata
9 Nov 1945 Sekutu keluarkan ultimatum; Bung Tomo sampaikan pidato bersejarah
10 Nov 1945 Pertempuran besar meletus di seluruh Surabaya
Akhir Nov 1945 Sekutu berhasil menguasai kota; pertempuran mereda

Dampak dan Makna Pertempuran

Pertempuran yang berlangsung selama hampir tiga minggu ini menelan korban jiwa yang sangat besar dari kedua belah pihak. Meskipun pada akhirnya pasukan Sekutu berhasil menguasai kota pada akhir November 1945 — karena keunggulan persenjataan yang jauh lebih modern — perlawanan rakyat Surabaya telah membuktikan kepada dunia internasional bahwa bangsa Indonesia bukan bangsa yang lemah dan mudah ditaklukkan. Pertempuran ini menjadi simbol perlawanan nasional yang menginspirasi rakyat di daerah lain untuk terus melawan, sekaligus menarik perhatian dunia internasional dan memperkuat posisi diplomasi Indonesia dalam memperjuangkan pengakuan kemerdekaannya.

Kisah heroik perlawanan rakyat dalam menghadapi kekuatan kolonial ini juga mengingatkan kita pada semangat serupa yang pernah ditunjukkan oleh para pahlawan di era sebelumnya. Sultan Hasanuddin, misalnya, juga pernah memimpin rakyat Gowa melawan armada VOC Belanda yang jauh lebih kuat secara militer pada abad ke-17 — sebuah tradisi panjang perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan yang terus mengalir dari generasi ke generasi.

Strategi dan Kepemimpinan Bung Tomo

Kepemimpinan Bung Tomo dalam Pertempuran Surabaya sangat unik karena tidak bersifat militer formal dalam pengertian konvensional. Ia bukan jenderal yang memimpin pasukan dalam formasi tempur yang teratur. Kekuatannya justru terletak pada kemampuannya memobilisasi massa dan menyatukan elemen-elemen yang beragam — dari pemuda pelajar, santri pesantren, buruh pelabuhan, pedagang pasar, hingga mantan tentara PETA — dalam satu tekad yang sama: mempertahankan kemerdekaan sampai titik darah penghabisan.

Strategi utama Bung Tomo dapat dipahami dalam tiga dimensi. Pertama, dimensi komunikasi: ia memanfaatkan Radio Pemberontak sebagai media agitasi yang efektif, menjangkau ribuan orang secara bersamaan dan memastikan bahwa semangat perlawanan tidak pernah padam meski kondisi medan perang semakin berat. Kedua, dimensi organisasi: melalui BPRI, ia membangun struktur perlawanan yang relatif terorganisir, memungkinkan koordinasi antara berbagai kelompok pejuang yang bergerak di berbagai titik kota. Ketiga, dimensi spiritual: dengan mengintegrasikan nilai-nilai keimanan Islam dalam pidato-pidatonya, ia berhasil membingkai pertempuran sebagai perjuangan yang bermakna lebih dalam dari sekadar perang fisik — yaitu perjuangan menegakkan keadilan dan martabat di hadapan Allah.

Gaya kepemimpinan Bung Tomo yang paling menonjol adalah ketiadaan jarak antara dirinya dan rakyat biasa. Ia tidak memimpin dari kejauhan yang nyaman dan aman, melainkan hadir langsung di tengah-tengah rakyat yang berjuang. Ia berbicara kepada mereka bukan sebagai seorang pemimpin kepada bawahan, melainkan sebagai seorang saudara kepada saudara-saudaranya yang senasib dan seperjuangan.

Pidato Bersejarah "Merdeka atau Mati"

Di antara semua warisan yang ditinggalkan oleh Bung Tomo, mungkin tidak ada yang lebih hidup, lebih terasa, dan lebih menggetar jiwa dibandingkan pidatonya yang disiarkan melalui Radio Pemberontak pada malam 9 November 1945 — sehari sebelum Pertempuran Surabaya meletus. Pidato ini telah direkam dalam buku-buku sejarah, diajarkan di sekolah-sekolah, dan terus diputar ulang setiap peringatan Hari Pahlawan sebagai pengingat akan semangat yang tak boleh padam.

📢 Pidato Bung Tomo — Surabaya, 9–10 November 1945

Bismillahirrohmanirrohim..

Merdeka!!!

Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia terutama saudara-saudara penduduk Kota Surabaya. Kita semuanya telah mengetahui. Bahwa hari ini tentara Inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua. Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan, menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangan tentara Jepang. Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan. Mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka.

Saudara-saudara,

Di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau, kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya. Pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku, pemuda-pemuda yang berasal dari Sulawesi, pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali, pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan, pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera, pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini. Di dalam pasukan mereka masing-masing. Dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung.

Telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol. Telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana. Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara. Dengan mendatangkan presiden dan pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini. Maka kita ini tunduk untuk memberhentikan pertempuran. Tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri. Dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya.

Saudara-saudara kita semuanya. Kita bangsa Indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tantangan tentara Inggris itu, dan kalau pimpinan tentara Inggris yang ada di Surabaya, ingin mendengarkan jawaban rakyat Indonesia, ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini, dengarkanlah ini tentara Inggris.

Ini jawaban kita. Ini jawaban rakyat Surabaya. Ini jawaban pemuda Indonesia kepada kau sekalian. Hai tentara Inggris! Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu. Kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu. Kau menyuruh kita membawa senjata-senjata yang telah kita rampas dari tentara Jepang untuk diserahkan kepadamu. Tuntutan itu, walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada, tetapi inilah jawaban kita. Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga.

Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah keadaan genting! Tetapi saya peringatkan sekali lagi. Jangan mulai menembak. Baru kalau kita ditembak, maka kita akan ganti menyerang mereka. Itulah, kita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka.

Dan untuk kita saudara-saudara. Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap: merdeka atau mati! Dan kita yakin saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita, sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara. Tuhan akan melindungi kita sekalian.

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Merdeka!!!

Pidato ini bukan sekadar kumpulan kata-kata. Ia adalah cerminan jiwa seorang pemimpin yang benar-benar percaya pada apa yang ia perjuangkan, yang berbicara bukan untuk pencitraan melainkan untuk mempersiapkan ribuan orang menghadapi kemungkinan terburuk: kematian di medan perang. Dan rakyat Surabaya, yang mendengar pidato ini lewat radio, meresponsnya dengan cara yang paling heroik: mereka bangkit, mengangkat senjata, dan memilih merdeka atau mati.

Kehidupan Pasca-Revolusi dan Karier Politik

Setelah masa revolusi fisik mereda, Bung Tomo tidak berhenti bergerak. Presiden Soekarno mempercayainya dengan tugas besar: diangkat menjadi salah seorang pemimpin di lingkungan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan pangkat Mayor Jenderal, bertugas mengoordinasikan Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara di bidang informasi dan perlengkapan perang. Ia juga menjabat sebagai Dewan Penasihat Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Ketua Badan Koordinasi Produksi Senjata seluruh Jawa dan Madura — posisi-posisi yang menunjukkan betapa tinggi kepercayaan yang diberikan kepadanya dalam mendukung perjuangan militer Indonesia.

Sekitar tahun 1950-an, Bung Tomo mulai aktif terjun ke arena politik formal. Ia masuk ke kabinet Burhanuddin Harahap sebagai Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim pada periode 12 Agustus 1955 hingga 24 Maret 1956. Selanjutnya, ia terpilih sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Partai Rakyat Indonesia untuk periode 1956–1959.

Konflik dengan Pemerintah Soekarno dan Soeharto

Namun, idealisme Bung Tomo yang tidak pernah bisa dikompromikan sering menempatkannya dalam posisi berseberangan dengan kekuasaan. Pada tahun 1961, di masa akhir pemerintahan Soekarno, ia ditahan karena dianggap terlalu kritis terhadap arah kebijakan politik saat itu. Bung Tomo menghabiskan beberapa tahun dalam tahanan — sebuah ironi yang menyedihkan: seorang pahlawan yang pernah mempertaruhkan nyawanya demi kemerdekaan bangsa, kini dipenjara oleh pemerintah yang berdiri di atas kemerdekaan yang ia perjuangkan.

Pada awal pemerintahan Orde Baru, Bung Tomo sempat memberikan dukungannya kepada Soeharto. Namun, seiring berjalannya waktu, ia semakin kecewa dengan arah pemerintahan yang menurutnya tidak lagi berpihak kepada rakyat kecil. Pada awal tahun 1970-an, ia kembali muncul sebagai kritikus keras pemerintah. Pada tanggal 11 April 1978, pemerintah Orde Baru kembali menangkap dan memenjarakannya karena kritikan-kritikannya yang dianggap mengancam stabilitas. Satu tahun kemudian, ia dibebaskan oleh Soeharto.

Setelah dibebaskan, Bung Tomo lebih memilih mundur dari kancah politik dan fokus pada kegiatan sosial, keagamaan, dan pendidikan. Ia mendirikan yayasan sosial yang bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan, dan terus memberikan ceramah-ceramah yang membangkitkan semangat nasionalisme kepada masyarakat. Meskipun dikenal sebagai pahlawan besar, ia menjalani hidup yang sangat sederhana dan tidak pernah mengejar kekayaan atau jabatan — sebuah konsistensi yang semakin menegaskan kemurnian niat perjuangannya dari awal hingga akhir.

Wafat dan Warisan Perjuangan

Pada tanggal 7 Oktober 1981, Bung Tomo menghembuskan napas terakhirnya di Padang Arafah, Arab Saudi, saat menunaikan ibadah haji. Ia meninggal empat hari sebelum ulang tahunnya yang ke-61 — sebuah kepergian yang, bagi banyak orang, terasa sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar kebetulan. Bagi seorang yang sepanjang hidupnya telah menjadikan iman sebagai sumber kekuatan perjuangannya, mengakhiri hidup di tanah suci dalam kondisi beribadah adalah penutup yang paling bermakna yang bisa dibayangkan.

Sesuai dengan wasiatnya, jenazah Bung Tomo tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan sebagaimana umumnya para pahlawan dan tokoh nasional, melainkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ngagel, Surabaya. Keputusan ini bukan tanpa makna — ia adalah cerminan dari prinsip hidup Bung Tomo yang selalu memilih bersama rakyat biasa, bahkan dalam kematiannya. Meski dimakamkan di pemakaman umum, makam Bung Tomo di Ngagel tidak pernah sepi — setiap harinya dikunjungi oleh warga yang ingin menghormati jasa-jasanya.

Setelah kepergiannya, perjalanan menuju pengakuan resmi negara atas jasa-jasa Bung Tomo ternyata tidak mudah. Usulan pemberian gelar pahlawan nasional sempat diajukan namun tidak mendapat persetujuan dalam beberapa tahun. Setelah mendapat desakan dari berbagai pihak termasuk GP Ansor dan Fraksi Partai Golkar DPR, pada akhirnya pemerintah Republik Indonesia resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Bung Tomo bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan pada 10 November 2008. Keputusan presiden bernomor 041/TK/Tahun 2008 tersebut diserahkan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada istri Bung Tomo di Istana Merdeka — sebuah momen yang mengakhiri polemik panjang sekaligus mengukuhkan posisi Bung Tomo dalam jajaran pahlawan-pahlawan terbesar bangsa Indonesia.

Seperti semangat perjuangan para pahlawan besar lainnya, warisan Bung Tomo terus mengalir melewati batas-batas waktu. Sama seperti Pangeran Diponegoro yang semangatnya terus hidup dalam setiap generasi pejuang yang datang setelahnya, semangat Bung Tomo — dengan slogan "Merdeka atau Mati" yang ia kumandangkan — tetap menjadi pengingat abadi bahwa kemerdekaan bukan pemberian, melainkan sesuatu yang harus dipertahankan dengan segala pengorbanan.

Penghargaan dan Pengabadian Nama

Warisan nama Bung Tomo tertancap dengan sangat kuat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, khususnya di kota Surabaya yang ia cintai dan yang menjadi saksi perjuangan terbesarnya. Beberapa bentuk pengabadian nama dan penghargaan yang diberikan kepada Bung Tomo antara lain sebagai berikut.

Universitas Bung Tomo di Surabaya berdiri sebagai institusi pendidikan tinggi yang mengabadikan namanya dan menjaga semangat perjuangannya dalam dunia pendidikan. Stadion Gelora Bung Tomo, salah satu stadion sepak bola terbesar di Surabaya, menjadi arena olahraga yang menyandang nama sang pahlawan dengan penuh kebanggaan. Nama Jalan Bung Tomo juga dapat ditemukan di berbagai kota di Indonesia, memastikan namanya selalu disebut dalam keseharian masyarakat.

Di level nasional, setiap tanggal 10 November seluruh bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan — sebuah peringatan yang tidak dapat dipisahkan dari nama Bung Tomo dan Pertempuran Surabaya yang ia pimpin. Foto ikoniknya yang memperlihatkan sosok berambut gondrong sedang berorasi penuh semangat di hadapan mikrofon radio menjadi salah satu gambar paling dikenal dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Kisah perjuangannya juga telah menginspirasi berbagai karya seni dan budaya, dari film, buku, puisi, hingga lagu-lagu perjuangan yang terus dinyanyikan dari generasi ke generasi. Semangat "Merdeka atau Mati" yang ia kumandangkan telah melampaui batas-batas waktu dan menjadi warisan spiritual yang tak ternilai harganya bagi bangsa Indonesia.

Nilai-Nilai Keteladanan Bung Tomo

Kisah hidup Bung Tomo adalah tambang nilai-nilai luhur yang relevan tidak hanya untuk generasi yang hidup di zamannya, tetapi juga — bahkan terutama — untuk generasi Indonesia di era modern ini. Pertama dan terutama adalah nilai keberanian berlandaskan iman. Bung Tomo tidak hanya berani secara fisik; keberaniannya berakar pada keyakinan yang teguh bahwa perjuangannya adalah amanah dari Tuhan. Inilah yang membuat ia tidak hanya bisa berjuang sendiri, tetapi juga mampu memindahkan keberanian itu kepada ribuan orang lain melalui kata-katanya.

Nilai kedua adalah kekuatan komunikasi dan literasi. Bung Tomo membuktikan bahwa pena dan suara bisa sama kuatnya — bahkan lebih kuat — dari senjata. Di era digital ini, kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif, menyampaikan kebenaran dengan tegas, dan menggerakkan orang melalui kata-kata adalah keterampilan yang tidak kalah pentingnya dari keterampilan teknis apapun.

Nilai ketiga adalah integritas dan kesederhanaan. Bung Tomo tidak pernah memanfaatkan kepahlawanannya untuk mencari kekayaan atau privilege pribadi. Ia hidup sederhana, mengkritik ketidakadilan meski itu membawanya ke penjara, dan bahkan dalam kematiannya memilih dimakamkan bersama rakyat biasa. Ini adalah pelajaran tentang bagaimana seorang pemimpin sejati menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadinya.

Nilai keempat adalah semangat pantang menyerah. Bung Tomo ditangkap, dipenjara dua kali oleh dua rezim yang berbeda, dan terus-menerus menghadapi tekanan dari berbagai arah sepanjang hidupnya. Namun tidak satu pun dari tekanan-tekanan tersebut berhasil memadamkan semangat juangnya. Ia tetap konsisten dengan prinsip-prinsipnya sampai akhir hayatnya.

FAQ — Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Bung Tomo

1. Siapa nama asli Bung Tomo dan kapan ia lahir?
Nama asli Bung Tomo adalah Sutomo. Ia lahir pada tanggal 3 Oktober 1920 di Kampung Blauran, Surabaya, Jawa Timur. Nama "Bung Tomo" merupakan panggilan akrab yang kemudian menjadi identitas utamanya sebagai tokoh perjuangan nasional.
2. Apa peran Bung Tomo dalam Pertempuran 10 November 1945?
Bung Tomo memainkan peran sangat sentral dalam Pertempuran 10 November 1945. Ia mendirikan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) dan Radio Pemberontak, yang menjadi media utama untuk mengobarkan semangat perlawanan rakyat Surabaya. Melalui pidato-pidato berapi-apinya yang disiarkan lewat radio — terutama pidatonya pada malam 9 November 1945 — ia berhasil menyatukan ribuan pemuda dan rakyat dari berbagai kalangan untuk menolak ultimatum Sekutu dan memilih bertempur demi kemerdekaan.
3. Mengapa tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan?
Tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan untuk mengenang Pertempuran Surabaya yang meletus pada 10 November 1945 — pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia. Pertempuran ini melambangkan semangat perlawanan rakyat Indonesia terhadap kolonialisme dan menjadi simbol nasional atas tekad bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dengan segala pengorbanan, termasuk nyawa sekalipun.
4. Apa isi semboyan terkenal Bung Tomo?
Semboyan paling terkenal Bung Tomo adalah "Merdeka atau Mati!" — sebuah ungkapan yang ia kumandangkan dalam pidato bersejarahnya di Radio Pemberontak menjelang Pertempuran 10 November 1945. Semboyan ini mencerminkan tekad bulat rakyat Surabaya untuk tidak pernah menyerah kepada penjajah dan memilih kematian yang bermartabat daripada hidup dalam kehinaan di bawah penjajahan.
5. Apa itu BPRI dan apa perannya dalam Pertempuran Surabaya?
BPRI (Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia) adalah laskar perjuangan yang didirikan oleh Bung Tomo pada 12 Oktober 1945. Dalam waktu singkat, organisasi ini berhasil menarik sekitar 3.500 anggota dari berbagai kalangan masyarakat Surabaya. BPRI menjadi tulang punggung perlawanan rakyat dalam Pertempuran Surabaya dan juga mengelola Radio Pemberontak yang menjadi corong utama semangat perjuangan.
6. Kapan dan di mana Bung Tomo wafat?
Bung Tomo wafat pada tanggal 7 Oktober 1981 di Padang Arafah, Arab Saudi, saat menunaikan ibadah haji. Sesuai wasiatnya, jenazahnya tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ngagel, Surabaya — mencerminkan prinsipnya untuk selalu bersama rakyat biasa, bahkan dalam kematiannya.
7. Kapan Bung Tomo mendapat gelar Pahlawan Nasional?
Bung Tomo resmi mendapat gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 10 November 2008, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, melalui Keputusan Presiden Nomor 041/TK/Tahun 2008. Surat keputusan tersebut diserahkan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada istri Bung Tomo di Istana Merdeka. Penetapan ini mengakhiri polemik panjang yang sebelumnya sempat menunda pengakuan resmi atas jasa-jasa sang pahlawan.
8. Apa jabatan politik Bung Tomo setelah kemerdekaan?
Setelah masa revolusi, Bung Tomo memegang berbagai jabatan penting. Ia diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai pemimpin TNI dengan pangkat Mayor Jenderal di bidang informasi dan perlengkapan perang. Dalam pemerintahan, ia menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim (1955–1956) pada Kabinet Burhanuddin Harahap, serta menjadi Anggota DPR dari Partai Rakyat Indonesia (1956–1959).
9. Benarkah Bung Tomo pernah dipenjara? Mengapa?
Benar. Bung Tomo pernah dipenjara dua kali. Pertama, pada tahun 1961 oleh pemerintahan Soekarno karena dianggap terlalu kritis terhadap kebijakan politik saat itu. Kedua, pada tanggal 11 April 1978 oleh pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto, karena kritikan-kritikannya yang keras terhadap kebijakan pemerintah. Ia dibebaskan satu tahun kemudian pada 1979. Kedua penangkapan ini mencerminkan integritas Bung Tomo yang tidak pernah mau bersikap diam terhadap ketidakadilan, meski itu berarti harus berhadapan dengan kekuasaan.
10. Apa saja warisan nama Bung Tomo yang masih ada hingga kini?
Warisan nama Bung Tomo yang masih ada hingga kini antara lain: Universitas Bung Tomo di Surabaya, Stadion Gelora Bung Tomo di Surabaya, Jalan Bung Tomo di berbagai kota di Indonesia, peringatan Hari Pahlawan setiap 10 November, berbagai sekolah dan lembaga yang menggunakan namanya, serta foto ikoniknya yang terus menjadi simbol semangat juang bangsa Indonesia.

Kesimpulan

Bung Tomo adalah bukti hidup bahwa perubahan sejarah tidak selalu dimulai dari meriam atau pedang. Kadang, sejarah berubah karena satu suara yang cukup keras, cukup tulus, dan cukup berani untuk menyentuh jiwa ribuan orang sekaligus. Dalam keterbatasan pendidikan formalnya, tanpa latar belakang militer yang megah, tanpa warisan darah bangsawan — Sutomo dari Kampung Blauran berhasil menempatkan dirinya dalam jajaran pahlawan terbesar bangsa ini, semata-mata karena ketulusan hati dan keberanian jiwa yang tidak tertandingi.

Perjalanan hidupnya yang penuh liku — dari anak yang terpaksa putus sekolah karena kemiskinan, menjadi wartawan muda yang berani, lalu orator paling berpengaruh di masa revolusi, kemudian politisi yang tidak takut mengkritik kekuasaan hingga dua kali dipenjara — adalah narasi tentang seorang manusia yang tidak pernah mengkhianati prinsip-prinsipnya, dalam situasi apapun. Dan itu, pada akhirnya, adalah definisi paling sederhana namun paling kuat dari seorang pahlawan sejati.

Semangat "Merdeka atau Mati" yang ia kumandangkan tujuh dekade lalu masih terus relevan hari ini. Bukan lagi dalam konteks peperangan fisik melawan penjajah bersenjata, tetapi dalam perjuangan sehari-hari melawan berbagai bentuk ketidakadilan, kemiskinan, kebodohan, dan korupsi yang masih menggerogoti bangsa ini. Bung Tomo tidak hanya mewariskan sejarah — ia mewariskan api. Dan api itu tidak boleh padam.

📚 Sumber Referensi

  1. Arsip Nasional Republik Indonesia — Profil Bung Tomo
  2. Kemdikbud / ditsmp.kemdikbud.go.id — Profil Bung Tomo dan Pertempuran 10 November 1945
  3. Gramedia Literasi — Biografi Bung Tomo: Riwayat Hidup dan Perjuangannya
  4. InfoBiografi.com — Biografi dan Profil Lengkap Bung Tomo
  5. Keputusan Presiden No. 041/TK/Tahun 2008 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional
  6. Taufiq (2020). Pekik Takbir Bung Tomo: Perjalanan Hidup, Kisah Cinta dan Perjuangannya. Yogyakarta: Araska.

Posting Komentar untuk "Biografi Bung Tomo: Api Semangat Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya"