Struktur pantun sampiran dan isi merupakan dua bagian pokok yang wajib dipahami oleh siapa pun yang ingin mengenal pantun lebih dalam. Pantun adalah warisan budaya Melayu yang telah hidup selama berabad-abad di tengah masyarakat Indonesia. Keindahan pantun bukan hanya terletak pada rimanya yang merdu, tetapi juga pada cara penyampaian pesan yang cerdas melalui dua bagian struktural utama: sampiran dan isi.
Bagi sebagian siswa, memahami perbedaan sampiran dan isi pantun terasa membingungkan, terutama ketika keduanya tampak tidak memiliki hubungan makna yang jelas. Padahal, di sinilah letak keunikan dan kecerdasan pantun sebagai karya sastra. Setiap baris dalam pantun disusun dengan perhitungan yang cermat — mulai dari jumlah suku kata, pola rima, hingga pesan yang ingin disampaikan.
Artikel ini hadir untuk membantumu memahami struktur pantun secara mendalam, mulai dari pengertian sampiran dan isi, fungsi masing-masing bagian, cara membedakannya, hingga contoh-contoh lengkap dengan analisis baris per baris. Yuk, kita pelajari bersama!
Pengertian Struktur Pantun
Sebelum membahas sampiran dan isi secara terpisah, penting untuk memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan struktur pantun. Struktur pantun adalah susunan atau kerangka baku yang membentuk sebuah pantun, yang mencakup jumlah baris, pola rima, dan pembagian fungsi tiap baris dalam satu bait.
Struktur pantun adalah kerangka pembentuk pantun yang terdiri atas dua bagian pokok, yaitu sampiran (baris 1–2) dan isi (baris 3–4), dengan pola rima akhir a-b-a-b dalam setiap bait yang terdiri dari empat baris.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pantun adalah bentuk puisi Indonesia (Melayu) yang tiap bait biasanya terdiri atas empat baris yang bersajak a-b-a-b. Setiap larik biasanya terdiri atas empat kata, di mana baris pertama dan kedua merupakan sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat merupakan isi.
Secara ringkas, struktur pantun mencakup ketentuan-ketentuan berikut:
- Terdiri dari 4 baris (larik) dalam satu bait
- Setiap baris mengandung 8–12 suku kata atau sekitar 4–6 kata
- Pola rima akhir: a-b-a-b (baris 1 & 3 berima sama; baris 2 & 4 berima sama)
- Baris 1–2 adalah sampiran (pengantar)
- Baris 3–4 adalah isi (pesan utama)
Untuk memahami lebih lengkap tentang asal-usul dan sejarah pantun sebagai warisan budaya Melayu, kamu bisa membaca artikel kami tentang pengertian pantun, definisi, sejarah, dan asal-usulnya.
Pengertian dan Fungsi Sampiran dalam Pantun
Sampiran adalah dua baris pertama dalam sebuah bait pantun. Secara harfiah, kata "sampiran" berasal dari kata sampir yang berarti "gantungan" atau "penyandar" — sesuatu yang disandarkan atau dikaitkan pada sesuatu yang lain. Dalam konteks pantun, sampiran berfungsi sebagai penyandar rima yang mengantarkan pendengar menuju bagian isi.
Sampiran adalah dua baris pertama (baris 1 dan 2) dalam satu bait pantun yang berfungsi sebagai pengantar rima dan irama untuk memudahkan pendengar memahami isi pantun. Sampiran biasanya menggambarkan keadaan alam atau peristiwa sehari-hari, dan umumnya tidak memiliki hubungan makna langsung dengan bagian isi.
Ciri-Ciri Sampiran
Agar kamu bisa mengenali bagian sampiran dengan mudah, perhatikan ciri-ciri berikut ini:
- Terletak pada baris ke-1 dan ke-2 dalam satu bait pantun.
- Berisi gambaran alam atau peristiwa umum, seperti tumbuhan, hewan, kegiatan sehari-hari, atau kondisi lingkungan sekitar.
- Tidak memiliki hubungan makna langsung dengan isi pantun, tetapi berfungsi mengantarkan rima.
- Pola rima baris 1 (a) harus selaras dengan baris 3, dan pola rima baris 2 (b) harus selaras dengan baris 4.
- Kadang berfungsi sebagai cerminan isi secara tersirat, meskipun tidak selalu.
Fungsi Sampiran
Banyak yang mengira sampiran hanya pelengkap tanpa makna penting. Padahal, sampiran memiliki beberapa fungsi yang sangat krusial dalam membangun keindahan dan ketepatan sebuah pantun:
- Menyiapkan rima (sajak) akhir — Sampiran menetapkan bunyi akhir baris 1 dan 2 yang akan diulang pada baris 3 dan 4, sehingga pantun terasa harmonis saat diucapkan.
- Menyiapkan irama — Jumlah suku kata pada sampiran menentukan ritme dan tempo keseluruhan pantun agar enak didengar.
- Memperindah estetika pantun — Gambaran alam yang segar dan puitis dalam sampiran membuat pantun terasa hidup dan tidak datar.
- Menciptakan rasa penasaran — Ketika sampiran tidak berhubungan langsung dengan isi, pendengar justru merasa penasaran dengan pesan yang tersembunyi di baliknya.
- Menjadi isyarat makna (pada pantun mulia) — Dalam jenis pantun tertentu, sampiran dapat memberikan bayangan atau petunjuk halus terhadap isi yang akan disampaikan.
Menarik untuk diketahui bahwa dalam kajian sastra, pantun dibedakan menjadi pantun mulia dan pantun tak mulia. Pada pantun mulia, sampiran tidak hanya menyiapkan rima, tetapi juga berfungsi sebagai isyarat atau petunjuk halus terhadap isi. Sementara pada pantun tak mulia, sampiran murni berfungsi sebagai pengantar rima tanpa kaitan makna dengan isi.
Pengertian dan Fungsi Isi Pantun
Jika sampiran adalah pintu masuk, maka isi adalah ruangan utama dalam sebuah pantun. Isi pantun merupakan inti dari seluruh pesan, gagasan, perasaan, atau nasihat yang ingin disampaikan oleh pembuat pantun kepada pendengarnya.
Isi pantun adalah dua baris terakhir (baris 3 dan 4) dalam satu bait pantun yang memuat pesan utama, maksud, gagasan, atau tujuan yang ingin disampaikan oleh pembuat pantun. Isi merupakan bagian inti dan paling penting dari sebuah pantun.
Ciri-Ciri Isi Pantun
- Terletak pada baris ke-3 dan ke-4 dalam satu bait pantun.
- Memuat pesan, nasihat, ungkapan perasaan, atau tujuan yang ingin dikomunikasikan.
- Berpola rima a-b yang sama dengan pola rima sampiran, sehingga bunyi akhir baris 3 sama dengan baris 1, dan baris 4 sama dengan baris 2.
- Dapat mengandung makna tersurat maupun tersirat — pesan kadang disampaikan secara langsung, kadang melalui kiasan atau perumpamaan.
- Merujuk pada dunia manusia, meliputi perasaan, pemikiran, perbuatan, nilai moral, agama, atau hubungan sosial.
Fungsi Isi Pantun
Isi pantun memiliki fungsi yang langsung berkaitan dengan tujuan komunikasi dalam pantun:
- Menyampaikan pesan moral atau nasihat kepada pendengar secara halus namun berkesan.
- Mengungkapkan perasaan seperti cinta, rindu, duka, gembira, atau kagum.
- Memberikan teguran atau sindiran secara tidak langsung (halus dan tidak menyinggung).
- Menyampaikan ajakan atau imbauan kepada seseorang atau masyarakat.
- Menghibur melalui humor, teka-teki, atau ungkapan jenaka.
Ingin tahu lebih lanjut bagaimana pantun berbeda dengan syair dan gurindam sebagai sesama puisi lama? Simak penjelasannya di artikel perbedaan pantun, syair, dan gurindam di blog ini.
Perbedaan Sampiran dan Isi: Tabel Perbandingan Lengkap
Untuk memudahkan pemahaman, berikut adalah tabel perbandingan antara sampiran dan isi pantun secara menyeluruh:
| Aspek | Sampiran | Isi |
|---|---|---|
| Posisi | Baris 1 dan 2 | Baris 3 dan 4 |
| Fungsi Utama | Menyiapkan rima dan irama | Menyampaikan pesan/tujuan |
| Hubungan Makna | Umumnya tidak berhubungan langsung dengan isi | Inti dari seluruh pantun |
| Tema | Alam, lingkungan, peristiwa sehari-hari | Dunia manusia: perasaan, moral, nasihat, cinta, agama |
| Pola Rima | Baris 1 = pola (a), Baris 2 = pola (b) | Baris 3 = pola (a), Baris 4 = pola (b) |
| Tingkat Kepentingan | Penunjang estetika dan musikalitas | Inti pesan — bagian paling penting |
| Karakteristik Bahasa | Bersifat deskriptif dan imajinatif | Bersifat normatif, ekspresif, atau persuasif |
| Contoh Singkat | Buah manggis enak rasanya | Rajin belajar raih cita-citanya |
Meskipun sampiran dan isi umumnya tidak memiliki hubungan makna langsung, keduanya harus memiliki keselarasan bunyi akhir (rima). Pantun yang bagus adalah pantun yang sampiran dan isinya sama-sama indah — bukan hanya isinya saja yang kuat, tetapi juga sampirannya yang puitis dan menggugah.
Contoh Pantun Beserta Analisis Sampiran dan Isi
Pada bagian ini, kita akan mempelajari berbagai contoh pantun dari berbagai jenis, disertai analisis baris per baris yang menjelaskan fungsi sampiran dan isi secara rinci. Contoh disusun dari tingkat mudah, sedang, hingga sulit.
🟢 Tingkat Mudah — Pantun Nasihat
Pergi ke pasar membeli mentimun,
Jangan lupa membeli bawang merah.
Kalau ingin hidupmu rukun,
Jangan suka berkata seenaknya.
Analisis:
| Baris | Teks | Bagian | Rima | Keterangan |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Pergi ke pasar membeli mentimun | Sampiran | (a) — -timun | Menggambarkan kegiatan sehari-hari (berbelanja) |
| 2 | Jangan lupa membeli bawang merah | Sampiran | (b) — -merah | Melengkapi gambaran aktivitas berbelanja |
| 3 | Kalau ingin hidupmu rukun | Isi | (a) — -rukun | Syarat hidup rukun — menyambung rima baris 1 |
| 4 | Jangan suka berkata seenaknya | Isi | (b) — -nya | Larangan yang menjadi inti nasihat pantun |
Pesan isi: Pantun ini menasihati agar kita menjaga ucapan supaya kehidupan bersama orang lain tetap harmonis dan rukun. Sampirannya menggambarkan kegiatan berbelanja yang familiar, sehingga mudah diingat oleh pendengar.
🟡 Tingkat Sedang — Pantun Jenaka
Pohon mangga di tepi sumur,
Buahnya jatuh menimpa batu.
Orang tidur ngorok mendengkur,
Kupingku panas mendengarnya itu.
Analisis:
| Baris | Teks | Bagian | Rima | Keterangan |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Pohon mangga di tepi sumur | Sampiran | (a) — -sumur | Gambaran alam yang tenang sebagai kontras humor |
| 2 | Buahnya jatuh menimpa batu | Sampiran | (b) — -batu | Melengkapi suasana alam sebagai pengantar |
| 3 | Orang tidur ngorok mendengkur | Isi | (a) — -dengkur | Situasi jenaka yang dihadapi pembuat pantun |
| 4 | Kupingku panas mendengarnya itu | Isi | (b) — -itu | Ekspresi lucu yang menjadi punchline pantun |
Pesan isi: Pantun jenaka ini mengungkapkan rasa terganggu akibat suara dengkuran seseorang dengan cara yang menghibur. Sampiran tentang pohon mangga dan batu tidak berhubungan dengan isi, tetapi rima sumur–dengkur dan batu–itu terbentuk dengan sempurna.
🟡 Tingkat Sedang — Pantun Cinta
Bunga melati harum semerbak,
Ditanam orang di halaman rumah.
Hatiku resah kala kau menjauh,
Rindu ini tak tahu harus ke mana.
Analisis: Sampiran pada baris 1 dan 2 menggambarkan keharuman bunga melati yang ditanam di halaman rumah — sebuah gambaran yang indah dan familiar. Sementara isi pada baris 3 dan 4 mengungkapkan perasaan rindu dan resah ketika orang yang dicintai menjauh. Pada pantun ini, sampiran berfungsi sebagai isyarat halus terhadap isi: bunga yang harum menggambarkan keindahan sosok yang dirindukan, sehingga ini termasuk contoh pantun mulia di mana sampiran menjadi cerminan isi.
🔴 Tingkat Sulit — Pantun Kiasan (Majas Tersirat)
Berburu ke padang datar,
Dapatkan rusa belang kaki.
Berguru kepalang ajar,
Bagai bunga kembang tak jadi.
Analisis Mendalam:
| Baris | Teks | Bagian | Makna |
|---|---|---|---|
| 1 | Berburu ke padang datar | Sampiran | Gambaran kegiatan berburu — usaha mencari sesuatu |
| 2 | Dapatkan rusa belang kaki | Sampiran | Rusa belang kaki = hasil yang tidak sempurna dari perburuan |
| 3 | Berguru kepalang ajar | Isi | Belajar setengah-setengah, tidak tuntas dan tidak serius |
| 4 | Bagai bunga kembang tak jadi | Isi | Kiasan: hasilnya tidak sempurna, sia-sia, tidak mekar penuh |
Analisis mendalam: Ini adalah contoh pantun kiasan berkualitas tinggi. Sampiran tentang berburu dan mendapat rusa belang kaki secara tersirat menjadi isyarat isi: seperti berburu tapi hasilnya cacat, begitu pula belajar yang tidak sungguh-sungguh hasilnya pun tidak maksimal. Pesan isinya menggunakan perumpamaan "bunga yang tidak mekar sempurna" untuk menggambarkan ilmu yang tidak bermanfaat karena dipelajari dengan tidak sepenuh hati. Pantun ini termasuk kategori sulit karena pembaca perlu menggali lapisan makna di balik setiap barisnya.
🟢 Tingkat Mudah — Pantun Anak-Anak
Kucing belang tidur di kasur,
Mimpi berlari mengejar tikus.
Anak rajin tidak menggerutu,
Belajar tekun hasilnya mulus.
Analisis: Sampiran menggambarkan tingkah laku kucing yang lucu dan mudah dibayangkan oleh anak-anak. Isi pantun berisi nasihat agar anak-anak rajin belajar tanpa mengeluh agar mendapatkan hasil yang baik. Rima kasur–menggerutu pada pola (a) dan tikus–mulus pada pola (b) terbentuk dengan harmonis.
Cara Membuat Sampiran dan Isi yang Baik
Memahami teori saja tidak cukup — kamu juga perlu tahu bagaimana cara membuat sampiran dan isi yang baik agar menghasilkan pantun yang berkualitas. Berikut adalah langkah-langkah praktisnya:
- Tentukan isi terlebih dahulu. Sebelum memikirkan sampiran, tentukan dulu pesan apa yang ingin kamu sampaikan. Tuliskan dua baris isi lengkap dengan bunyi akhir (rima) baris 3 dan 4.
- Identifikasi bunyi akhir isi. Catat bunyi akhir baris 3 (pola a) dan baris 4 (pola b). Sampiran harus memiliki bunyi akhir yang sama persis.
- Buat sampiran dengan tema alam atau peristiwa sehari-hari. Gunakan gambaran yang imajinatif — pohon, hewan, alam, perjalanan, atau kegiatan keseharian — yang bunyi akhirnya sesuai dengan rima isi.
- Hitung suku kata setiap baris. Pastikan setiap baris mengandung 8–12 suku kata agar pantun terasa nyaman saat diucapkan.
- Baca ulang dengan keras. Dengarkan apakah rima dan iramanya terasa natural dan mengalir. Perbaiki jika ada baris yang terasa janggal atau terlalu banyak suku katanya.
- Menyamakan rima sampiran dan isi dengan bunyi yang mirip tapi tidak sama (mis. -an dan -kan dianggap sama — ini kurang tepat).
- Menaruh pesan utama di sampiran, bukan di isi.
- Baris yang terlalu panjang (lebih dari 12 suku kata) sehingga pantun tidak nyaman diucapkan.
- Menggunakan rima yang dipaksakan sehingga makna kalimat menjadi aneh atau tidak wajar.
Untuk melengkapi pemahamanmu tentang ciri-ciri pantun secara menyeluruh — termasuk syarat jumlah suku kata, pola rima, dan ketentuan lainnya — kunjungi artikel kami tentang ciri-ciri pantun secara lengkap.
Contoh Soal dan Pembahasan Struktur Pantun
Berikut adalah contoh soal latihan tentang struktur pantun sampiran dan isi, disusun dari tingkat mudah hingga sulit, lengkap dengan pembahasan.
🟢 Soal Mudah
Perhatikan pantun berikut!
Kalau ada jarum yang patah,
Jangan disimpan di dalam peti.
Kalau ada kata yang salah,
Jangan disimpan di dalam hati.
Manakah yang merupakan sampiran dari pantun di atas?
Jawaban: Sampiran adalah baris 1 dan 2, yaitu:
"Kalau ada jarum yang patah, / Jangan disimpan di dalam peti."
Pembahasan: Dua baris pertama menggambarkan jarum yang patah dan cara menyimpannya — ini adalah gambaran benda sehari-hari yang tidak berhubungan langsung dengan pesan, tetapi menyiapkan rima -patah dan -peti untuk diulang pada baris 3 dan 4 (-salah dan -hati).
🟡 Soal Sedang
Perhatikan pantun berikut!
Ikan gabus di rawa-rawa,
Ikan belut turun ke kali.
Perutku sakit menahan tawa,
Melihat kucing memakai dasi.
Tentukan: (a) bagian sampiran dan isi, (b) pola rima pantun tersebut, dan (c) jenis pantun berdasarkan isinya!
Jawaban:
- (a) Sampiran: Baris 1–2 (Ikan gabus di rawa-rawa / Ikan belut turun ke kali). Isi: Baris 3–4 (Perutku sakit menahan tawa / Melihat kucing memakai dasi).
- (b) Pola rima: a-b-a-b. Bunyi akhir baris 1 = -rawa, baris 3 = -tawa (a); bunyi akhir baris 2 = -kali, baris 4 = -dasi (b).
- (c) Jenis pantun: Pantun jenaka, karena isinya menggambarkan situasi lucu (kucing memakai dasi).
🔴 Soal Sulit
Bacalah pantun berikut dengan cermat!
Buah delima merah warnanya,
Manis segar bila dimakan.
Ilmu bermanfaat tiada tanahnya,
Jika diamalkan dan diajarkan.
Analisislah: (a) hubungan antara sampiran dan isi pada pantun tersebut, (b) jelaskan apakah pantun ini termasuk pantun mulia atau tidak, dan (c) apa pesan moral yang terkandung di dalam isi pantun!
Jawaban dan Pembahasan:
- (a) Hubungan sampiran dan isi: Sampiran menggambarkan buah delima yang berwarna merah dan manis jika dimakan. Isi berbicara tentang ilmu yang bermanfaat jika diamalkan. Terdapat hubungan isyarat yang halus: seperti buah delima yang baru terasa manfaatnya ketika dimakan, ilmu pun baru bernilai ketika diamalkan dan dibagikan kepada orang lain.
- (b) Klasifikasi: Pantun ini termasuk pantun mulia karena sampiran berfungsi bukan sekadar menyiapkan rima, melainkan juga menjadi isyarat dan cerminan dari pesan yang terkandung dalam isi.
- (c) Pesan moral: Ilmu pengetahuan tidak memiliki batas dan tidak akan habis jika terus diamalkan dan diajarkan kepada orang lain. Ilmu yang disimpan sendiri tanpa diamalkan ibarat buah yang tidak pernah dimakan — kemanfaatannya tidak dirasakan.
Rangkuman Materi Struktur Pantun: Sampiran dan Isi
- Struktur pantun terdiri dari dua bagian utama: sampiran (baris 1–2) dan isi (baris 3–4), dengan pola rima a-b-a-b.
- Sampiran adalah pengantar puitis yang berfungsi menyiapkan rima dan irama. Umumnya menggambarkan alam atau peristiwa sehari-hari dan tidak berhubungan langsung dengan isi.
- Isi adalah bagian inti pantun yang memuat pesan, nasihat, ungkapan perasaan, atau tujuan yang ingin disampaikan pembuat pantun.
- Rima sampiran dan isi harus selaras: bunyi akhir baris 1 harus sama dengan baris 3, dan bunyi akhir baris 2 harus sama dengan baris 4.
- Pantun mulia adalah pantun di mana sampiran juga berfungsi sebagai isyarat makna isi, sedangkan pantun tak mulia adalah pantun yang sampirannya murni berfungsi sebagai pengantar rima.
- Cara membuat pantun yang baik: tentukan isi dulu → catat rima akhir baris 3 dan 4 → buat sampiran yang berima selaras → hitung suku kata → baca keras untuk menguji irama.
Memahami struktur pantun, khususnya peran sampiran dan isi, akan membuatmu tidak hanya bisa membaca pantun dengan lebih bermakna, tetapi juga mampu membuat pantun yang indah dan berkesan. Pantun adalah seni berpikir — cara mengemas pesan dalam keindahan bunyi yang telah diwariskan oleh leluhur bangsa kita selama berabad-abad.
Teruslah berlatih membuat pantun! Mulailah dari tingkat mudah — tentukan dulu pesan yang ingin kamu sampaikan, lalu cari sampiran yang berima indah. Semakin sering berlatih, semakin tajam kepekaan kamu terhadap keindahan bahasa dan sastra Indonesia. 🌟
Bagikan artikel ini kepada teman-temanmu yang sedang belajar pantun, dan jangan lupa tinggalkan komentar jika ada bagian yang ingin kamu tanyakan lebih lanjut!
FAQ — Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Struktur Pantun
Apa perbedaan utama antara sampiran dan isi pantun?
Sampiran adalah dua baris pertama pantun yang berfungsi menyiapkan rima dan irama, biasanya berisi gambaran alam atau peristiwa sehari-hari, dan umumnya tidak berhubungan makna langsung dengan isi. Sementara isi adalah dua baris terakhir yang memuat pesan utama, nasihat, ungkapan perasaan, atau tujuan yang ingin disampaikan pembuat pantun. Keduanya wajib memiliki keselarasan bunyi akhir (rima) dengan pola a-b-a-b.
Mengapa sampiran pantun tidak berhubungan dengan isi?
Hal ini merupakan keunikan dan kecerdasan pantun sebagai karya sastra. Sampiran yang tampak tidak berhubungan dengan isi justru menciptakan rasa penasaran dan kejutan bagi pendengar. Fungsi utama sampiran memang bukan menyampaikan makna, melainkan menyiapkan rima dan irama agar isi pantun tersampaikan dengan indah dan berkesan. Namun pada jenis pantun mulia, sampiran bisa menjadi isyarat halus terhadap makna isi.
Bagaimana cara mudah membedakan sampiran dan isi pantun?
Cara paling mudah adalah dengan melihat posisi barisnya: sampiran selalu berada di baris 1 dan 2, sedangkan isi selalu berada di baris 3 dan 4. Dari sisi konten, tanyakan pada diri sendiri: "Di baris mana pesan atau nasihat utama pantun ini disampaikan?" — baris yang memuat pesan itulah yang disebut isi. Sampiran biasanya menggambarkan alam atau benda-benda fisik, sementara isi berbicara tentang manusia, perasaan, atau nilai moral.
Apakah sampiran harus selalu bertema alam?
Tidak harus. Meskipun tema alam (tumbuhan, hewan, kondisi cuaca, pemandangan) paling sering digunakan dalam sampiran — karena mencerminkan budaya agraris masyarakat Melayu kuno — sampiran juga bisa berisi gambaran kegiatan sehari-hari, perjalanan, atau peristiwa umum lainnya. Yang terpenting adalah sampiran menghasilkan bunyi akhir (rima) yang selaras dengan isi pantun.
Apakah pantun dengan lebih dari empat baris juga memiliki sampiran dan isi?
Ya, tentu. Pada pantun talibun (6, 8, atau 10 baris), pembagian sampiran dan isi tetap berlaku dengan proporsi yang sama. Jika talibun terdiri dari 6 baris, maka baris 1–3 adalah sampiran dan baris 4–6 adalah isi. Jika terdiri dari 8 baris, baris 1–4 adalah sampiran dan baris 5–8 adalah isi. Sementara pantun kilat atau karmina yang hanya terdiri dari 2 baris pun tetap memiliki sampiran (baris 1) dan isi (baris 2).

Posting Komentar untuk "Struktur Pantun: Sampiran dan Isi - Penjelasan Lengkap Beserta Contohnya"