Biografi KH Hasyim Asy’ari: Kisah Hidup, Perjuangan, dan Resolusi Jihad 1945

Biografi KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan penggerak Resolusi Jihad 22 Oktober 1945

Biografi KH Hasyim Asy'ari tidak bisa dipisahkan dari sejarah kemerdekaan Indonesia. Ulama kelahiran Jombang yang bergelar Hadratussyaikh ini mendirikan Pesantren Tebuireng dan Nahdlatul Ulama (NU). Fatwanya juga menjadi dasar Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, seruan yang menggerakkan santri dan rakyat membela kemerdekaan dan kini diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

Artikel ini membahas perjalanan hidup KH Hasyim Asy'ari secara lengkap, mulai dari masa kecil, perjalanan menuntut ilmu hingga ke Makkah, pendirian Tebuireng dan NU, sikapnya pada masa penjajahan, hingga isi dan dampak Resolusi Jihad. Di bagian akhir tersedia garis waktu, daftar karya kitab, serta nilai keteladanan yang bisa Bapak/Ibu guru gunakan sebagai bahan ajar SKI, Akidah Akhlak, atau IPS.

Profil Singkat KH Hasyim Asy'ari

Nama lahirMuhammad Hasyim
GelarHadratussyaikh (maha guru) dan Rais Akbar Nahdlatul Ulama
Lahir24 Zulkaidah 1287 H / 14 Februari 1871, Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur
Orang tuaKiai Asy'ari dan Nyai Halimah
PendidikanPesantren di Jawa dan Madura, kemudian Makkah
MendirikanPesantren Tebuireng (1899) dan Nahdlatul Ulama (31 Januari 1926)
Peran pentingFatwa Jihad (17 September 1945) dan Resolusi Jihad (22 Oktober 1945)
Wafat7 Ramadan 1366 H / 25 Juli 1947, Tebuireng, Jombang
MakamKompleks Pesantren Tebuireng, Jombang
Gelar Pahlawan NasionalKeputusan Presiden Nomor 294 Tahun 1964, tanggal 17 November 1964
Keturunan terkenalKH Abdul Wahid Hasyim (putra, Menteri Agama) dan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (cucu, Presiden ke-4 RI)

Daftar Isi

Masa Kecil dan Latar Belakang Keluarga

KH Hasyim Asy'ari lahir dengan nama Muhammad Hasyim pada 24 Zulkaidah 1287 H, bertepatan dengan 14 Februari 1871, di Desa Gedang, sekitar dua kilometer di timur kota Jombang, Jawa Timur. Beliau adalah anak ketiga dari sebelas bersaudara, putra pasangan Kiai Asy'ari dan Nyai Halimah.

Keluarganya adalah keluarga pesantren. Kakeknya dari pihak ibu, Kiai Utsman, adalah pendiri dan pengasuh Pesantren Gedang. Ayahnya, Kiai Asy'ari, merupakan santri Kiai Utsman yang kemudian dinikahkan dengan putrinya, lalu mendirikan pesantren sendiri di Desa Keras, Jombang. Lingkungan inilah yang membentuk Hasyim kecil. Sejak dini, beliau belajar mengaji Al-Qur'an dan dasar-dasar ilmu agama langsung dari ayah dan kakeknya.

Hasyim muda dikenal cerdas dan tekun. Sejumlah riwayat menyebut bahwa pada usia belasan tahun beliau sudah dipercaya membantu ayahnya mengajar santri yang usianya lebih tua.

Berkelana dari Pesantren ke Pesantren

Mulai usia sekitar 15 tahun, Hasyim meninggalkan rumah untuk berguru ke berbagai pesantren. Tradisi berkelana mencari ilmu ini dikenal dengan istilah santri kelana. Pesantren yang beliau singgahi antara lain:

  • Pesantren Wonokoyo, Probolinggo
  • Pesantren Langitan, Tuban
  • Pesantren Trenggilis, Surabaya
  • Pesantren Kademangan, Bangkalan, Madura, di bawah asuhan Syaikhona Kholil Bangkalan, ulama besar yang juga menjadi guru banyak kiai Jawa dan Madura
  • Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, di bawah asuhan Kiai Ya'qub

Di Siwalan Panji, kecerdasan dan akhlak Hasyim membuat Kiai Ya'qub menikahkannya dengan putrinya. Tidak lama setelah menikah, sekitar awal 1890-an, Hasyim berangkat ke Makkah bersama istrinya untuk berhaji sekaligus menuntut ilmu.

Belajar kepada Ulama Besar di Makkah

Masa awal di Makkah diwarnai duka. Istri beliau wafat setelah melahirkan, dan tidak lama kemudian putranya pun meninggal. Hasyim sempat pulang ke tanah air, lalu kembali lagi ke Makkah dan menetap di sana sekitar tujuh tahun untuk memperdalam ilmu.

Di Makkah, beliau berguru kepada ulama-ulama terkemuka, termasuk ulama Nusantara yang mengajar di Masjidil Haram:

GuruBidang yang Dipelajari
Syekh Mahfudz at-Tarmasi (asal Termas, Pacitan)Hadis, termasuk sanad Shahih Bukhari
Syekh Ahmad Khatib al-MinangkabawiFikih mazhab Syafi'i
Syekh Nawawi al-BantaniIlmu-ilmu keislaman
Sayyid Abu Bakar Syatha dan ulama Makkah lainnyaIlmu-ilmu keislaman

Keahlian di bidang hadis inilah yang kelak menjadi ciri khas beliau. Pengajian kitab Shahih Bukhari yang beliau asuh di Tebuireng setiap bulan Ramadan menjadi terkenal dan diikuti santri serta kiai dari berbagai daerah.

Mendirikan Pesantren Tebuireng

Sepulang dari Makkah, pada tahun 1899 KH Hasyim Asy'ari mendirikan Pesantren Tebuireng di Desa Cukir, Jombang. Lokasi ini dipilih dengan sengaja. Kawasan Tebuireng saat itu dikenal sebagai daerah yang rawan, berdekatan dengan pabrik gula milik Belanda, dan masyarakatnya jauh dari kehidupan beragama. KH Hasyim Asy'ari memilih berdakwah tepat di tengah tantangan itu.

Pesantren yang semula hanya memiliki segelintir santri berkembang pesat. Menjelang wafatnya pada 1947, Tebuireng sudah menjadi salah satu pesantren terbesar di Jawa dengan ribuan santri. Banyak alumninya kemudian mendirikan pesantren di berbagai daerah, sehingga pengaruh keilmuan beliau menyebar luas ke seluruh Nusantara.

Tebuireng juga dikenal terbuka terhadap pembaruan. Pada masa kepemimpinan beliau dan putranya, KH Abdul Wahid Hasyim, pesantren ini mulai mengajarkan pengetahuan umum seperti bahasa, berhitung, dan ilmu pengetahuan, berdampingan dengan kitab-kitab klasik.

Mendirikan Nahdlatul Ulama

Pada 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H), para ulama pesantren berkumpul di Surabaya dan mendirikan Nahdlatul Ulama, yang berarti "kebangkitan para ulama". KH Hasyim Asy'ari menjadi salah satu tokoh utama pendirinya bersama KH Abdul Wahab Chasbullah dan KH Bisri Syansuri. Beliau dipercaya menjabat Rais Akbar, pemimpin tertinggi NU, sejak berdiri hingga wafat.

NU didirikan untuk menjaga ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama'ah yang berakar pada tradisi pesantren, sekaligus bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi umat. KH Hasyim Asy'ari juga menyusun Qanun Asasi (prinsip dasar) NU yang hingga kini menjadi rujukan organisasi tersebut. Saat ini, NU tumbuh menjadi salah satu organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di dunia.

Sikap pada Masa Penjajahan Belanda dan Jepang

Masa Penjajahan Belanda

KH Hasyim Asy'ari menjaga jarak dari pemerintah kolonial Belanda. Beliau menolak penghargaan yang ditawarkan Belanda dan memilih membangun kekuatan umat melalui pendidikan pesantren. Sikap ini menjadi teladan kemandirian: pesantren tidak bergantung pada penjajah dan tetap menjadi benteng nilai-nilai keislaman serta kebangsaan.

Masa Pendudukan Jepang

Pada awal pendudukan Jepang tahun 1942, KH Hasyim Asy'ari ditangkap dan dipenjara selama sekitar empat bulan. Banyak sumber mengaitkan penangkapan ini dengan penolakan beliau terhadap seikerei, yaitu kewajiban membungkuk ke arah matahari terbit untuk menghormati Kaisar Jepang. Bagi beliau, sikap tersebut bertentangan dengan akidah Islam.

Setelah dibebaskan, Jepang justru melibatkan beliau dalam urusan umat Islam. KH Hasyim Asy'ari ditunjuk memimpin Shumubu (Kantor Urusan Agama) dan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Karena usia dan kesibukannya di pesantren, tugas sehari-hari di Shumubu banyak dijalankan oleh putranya, KH Abdul Wahid Hasyim. Shumubu inilah yang kelak menjadi cikal bakal Kementerian Agama Republik Indonesia.

Fatwa Jihad dan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945

Latar Belakang

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia segera terancam. Pasukan Sekutu yang datang untuk melucuti tentara Jepang diboncengi oleh NICA (pemerintahan sipil Hindia Belanda) yang ingin kembali berkuasa. Pertempuran-pertempuran kecil mulai pecah, sementara pemerintah pusat belum mengeluarkan perintah yang tegas.

Dalam situasi ini, para pejuang dan umat Islam membutuhkan kepastian hukum agama: apakah membela kemerdekaan termasuk kewajiban agama? Pada 17 September 1945, KH Hasyim Asy'ari mengeluarkan Fatwa Jihad yang menyatakan bahwa berjuang melawan penjajah dan sekutunya hukumnya fardhu 'ain, yaitu wajib bagi setiap Muslim.

Rapat Konsul NU di Surabaya

Fatwa tersebut kemudian dikukuhkan secara organisasi. Pada 21–22 Oktober 1945, para konsul (perwakilan wilayah) NU se-Jawa dan Madura berkumpul di kantor Pengurus Besar Ansor Nahdlatul Oelama di Jalan Bubutan, Surabaya. Rapat dipimpin oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. KH Hasyim Asy'ari, selaku Rais Akbar, menyampaikan amanat tentang kewajiban membela kemerdekaan, lalu rapat merumuskan keputusan yang dikenal sebagai Resolusi Jihad, tertanggal 22 Oktober 1945.

Isi Pokok Resolusi Jihad

Secara garis besar, Resolusi Jihad memuat dua tuntutan utama:

  1. Kepada pemerintah Republik Indonesia, agar menentukan sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap usaha-usaha yang membahayakan kemerdekaan, agama, dan negara Indonesia, terutama dari pihak Belanda dan kaki tangannya.
  2. Kepada umat Islam, agar melanjutkan perjuangan yang bersifat fi sabilillah untuk tegaknya Negara Republik Indonesia yang merdeka dan agama Islam.

Seruan ini dikenal pula dengan ketentuan bahwa membela tanah air menjadi kewajiban bagi setiap Muslim, khususnya mereka yang berada dalam radius 94 kilometer dari tempat musuh. Keputusan tersebut kemudian disiarkan oleh sejumlah surat kabar dan kantor berita pada 25–27 Oktober 1945, sehingga gaungnya menyebar luas.

Dampak: Menuju Pertempuran 10 November 1945

Resolusi Jihad membakar semangat santri dan rakyat, terutama di Jawa Timur. Masjid, pesantren, dan kantor-kantor NU menjadi pusat pengumpulan laskar Hizbullah dan Sabilillah, yang sebagian besar anggotanya adalah santri. Meski persenjataan dan latihannya terbatas, semangat mereka luar biasa.

Beberapa hari kemudian, pertempuran pecah di Surabaya pada 27–29 Oktober 1945. Komandan pasukan Inggris, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, tewas pada 30 Oktober 1945. Peristiwa ini memicu ultimatum dan serangan besar-besaran Sekutu yang berpuncak pada Pertempuran 10 November 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Tokoh seperti Bung Tomo, yang dekat dengan kalangan ulama, ikut mengobarkan semangat rakyat melalui siaran radionya.

Dari Resolusi Jihad ke Hari Santri

Selama puluhan tahun, peran Resolusi Jihad kurang mendapat tempat dalam penulisan sejarah nasional. Atas usulan kalangan pesantren, pemerintah akhirnya menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Setiap tahun, peringatan ini mengingatkan bangsa Indonesia bahwa ulama dan santri adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan kemerdekaan.

Pada 2026, Hari Santri diperingati dengan tema "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas". Logo resmi dan filosofinya dapat Bapak/Ibu baca pada artikel logo Hari Santri 2026 resmi.

Garis Waktu Kehidupan KH Hasyim Asy'ari

TahunPeristiwa
14 Februari 1871Lahir di Desa Gedang, Jombang
Sekitar 1886–1891Berkelana menuntut ilmu ke pesantren-pesantren di Jawa dan Madura
Awal 1890-anMenikah dengan putri Kiai Ya'qub, lalu berangkat ke Makkah
1890-anMenetap sekitar tujuh tahun di Makkah, berguru kepada ulama besar
1899Mendirikan Pesantren Tebuireng, Jombang
31 Januari 1926Ikut mendirikan Nahdlatul Ulama dan menjabat Rais Akbar
1942Ditahan oleh pemerintah pendudukan Jepang selama sekitar empat bulan
Masa pendudukan JepangMemimpin Shumubu (Kantor Urusan Agama) dan Masyumi
17 September 1945Mengeluarkan Fatwa Jihad membela kemerdekaan
21–22 Oktober 1945Rapat konsul NU se-Jawa dan Madura melahirkan Resolusi Jihad
10 November 1945Pertempuran Surabaya, diperingati sebagai Hari Pahlawan
25 Juli 1947Wafat di Tebuireng, Jombang
17 November 1964Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional (Keppres No. 294 Tahun 1964)
2015Tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri (Keppres No. 22 Tahun 2015)

Karya-Karya Kitab KH Hasyim Asy'ari

Selain mengajar dan berjuang, KH Hasyim Asy'ari juga produktif menulis. Karya-karyanya ditulis dalam bahasa Arab dan masih dikaji di pesantren hingga sekarang. Berikut beberapa di antaranya:

Judul KitabIsi Pokok
Adabul 'Alim wal Muta'allimAdab guru dan murid dalam menuntut ilmu. Kitab ini paling terkenal dan banyak dikaji di dunia pendidikan Islam.
Risalah Ahlis Sunnah wal Jama'ahPenjelasan ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah, termasuk persoalan bid'ah dan tanda-tanda akhir zaman
At-Tibyan fin Nahyi 'an Muqatha'atil Arham wal Aqarib wal IkhwanPentingnya menjaga silaturahmi dan bahaya memutus hubungan kekerabatan
An-Nurul Mubin fi Mahabbati Sayyidil MursalinCinta kepada Rasulullah saw., akhlak, dan keteladanan beliau
Ziyadatut Ta'liqatJawaban beliau dalam perdebatan ilmiah dengan seorang ulama Pasuruan
At-Tanbihatul WajibatKritik terhadap peringatan maulid yang dicampuri kemungkaran
Dlau'ul Mishbah fi Bayani Ahkamin NikahHukum, syarat, dan adab pernikahan

Kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim sangat relevan bagi dunia pendidikan hari ini. Isinya menekankan bahwa ilmu hanya akan bermanfaat jika diiringi niat yang lurus, kesungguhan, dan penghormatan kepada guru. Pesan inilah yang melahirkan ungkapan terkenal di pesantren: adab lebih didahulukan daripada ilmu.

Wafat dan Gelar Pahlawan Nasional

KH Hasyim Asy'ari wafat pada malam 7 Ramadan 1366 H, bertepatan dengan 25 Juli 1947, di Tebuireng dalam usia 76 tahun. Saat itu Belanda sedang melancarkan Agresi Militer I. Beliau wafat tidak lama setelah menerima kabar bahwa sejumlah daerah, termasuk Malang, jatuh ke tangan Belanda. Jenazahnya dimakamkan di kompleks Pesantren Tebuireng, yang hingga kini ramai diziarahi masyarakat dari berbagai daerah.

Atas jasa-jasanya, pemerintah menetapkan KH Hasyim Asy'ari sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 294 Tahun 1964 tanggal 17 November 1964. Perjuangannya diteruskan oleh keturunannya. Putranya, KH Abdul Wahid Hasyim, ikut merumuskan dasar negara dan menjadi Menteri Agama. Cucunya, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), menjadi Presiden ke-4 Republik Indonesia.

Nilai Keteladanan untuk Peserta Didik

Kisah hidup KH Hasyim Asy'ari kaya akan nilai karakter. Bapak/Ibu guru dapat memakainya sebagai bahan pembelajaran SKI, Akidah Akhlak, Pendidikan Pancasila, maupun IPS, khususnya menjelang Hari Santri dan Hari Pahlawan.

NilaiTeladan dari KH Hasyim Asy'ariPenerapan bagi Siswa
Gigih menuntut ilmuBerkelana ke banyak pesantren hingga ke MakkahTekun belajar dan tidak mudah menyerah saat menemui kesulitan
Sabar dan tabahTetap melanjutkan belajar meski kehilangan istri dan putranyaBangkit kembali setelah mengalami kegagalan atau musibah
Berani dan berprinsipMenolak tunduk pada tuntutan penjajah yang bertentangan dengan akidahBerani berkata benar dan menolak ajakan yang salah
Cinta tanah airMengeluarkan Fatwa Jihad dan mendorong Resolusi JihadMenjaga persatuan dan berprestasi untuk mengharumkan bangsa
Beradab kepada guruMenulis kitab Adabul 'Alim wal Muta'allimMenghormati guru dan menjaga sopan santun di sekolah
Peduli umatMendirikan pesantren di daerah yang membutuhkan dakwahMembantu teman dan peduli pada lingkungan sekitar

Baca Juga:

Kesimpulan

KH Hasyim Asy'ari adalah ulama, pendidik, dan pejuang yang jasanya terasa hingga kini. Dari Desa Gedang, Jombang, beliau berkelana menuntut ilmu hingga ke Makkah, lalu mendirikan Pesantren Tebuireng dan Nahdlatul Ulama. Ketika kemerdekaan terancam, Fatwa Jihad beliau dan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 menggerakkan santri dan rakyat membela tanah air, hingga berpuncak pada Pertempuran 10 November 1945.

Warisan terbesar beliau adalah keyakinan bahwa iman, ilmu, dan cinta tanah air berjalan beriringan. Pesan itulah yang terus dihidupkan setiap 22 Oktober melalui peringatan Hari Santri. Jika artikel ini bermanfaat untuk bahan ajar, silakan bagikan kepada rekan guru dan siswa.

FAQ Biografi KH Hasyim Asy'ari

Kapan dan di mana KH Hasyim Asy'ari lahir?

KH Hasyim Asy'ari lahir pada 24 Zulkaidah 1287 H atau 14 Februari 1871 di Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur. Beliau adalah putra Kiai Asy'ari dan Nyai Halimah.

Apa arti gelar Hadratussyaikh?

Hadratussyaikh berarti "maha guru". Gelar ini diberikan karena kedalaman ilmu KH Hasyim Asy'ari, terutama di bidang hadis, serta banyaknya murid beliau yang kemudian menjadi kiai dan ulama besar.

Apa isi Resolusi Jihad 22 Oktober 1945?

Resolusi Jihad meminta pemerintah Republik Indonesia mengambil sikap tegas terhadap ancaman yang membahayakan kemerdekaan, serta menyerukan umat Islam untuk melanjutkan perjuangan fi sabilillah membela negara yang merdeka. Membela tanah air dinyatakan sebagai kewajiban, terutama bagi Muslim yang berada dalam radius 94 kilometer dari tempat musuh.

Apa hubungan Resolusi Jihad dengan Hari Santri?

Hari Santri diperingati setiap 22 Oktober untuk mengenang Resolusi Jihad yang lahir pada tanggal tersebut di tahun 1945. Penetapannya tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.

Apa hubungan Resolusi Jihad dengan Hari Pahlawan?

Resolusi Jihad membakar semangat santri dan rakyat Jawa Timur untuk melawan pasukan Sekutu dan NICA. Semangat ini ikut melatarbelakangi Pertempuran Surabaya yang berpuncak pada 10 November 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Kapan KH Hasyim Asy'ari ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional?

KH Hasyim Asy'ari ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 294 Tahun 1964 tanggal 17 November 1964.

Posting Komentar untuk "Biografi KH Hasyim Asy’ari: Kisah Hidup, Perjuangan, dan Resolusi Jihad 1945"