Penyusunan Tujuan Pembelajaran (TP) dalam konteks Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) bukan sekadar perubahan diksi semantik. Ini adalah pergeseran paradigma (paradigm shift). Artikel ini dirancang sebagai panduan reflektif bagi para guru penggerak peradaban untuk merumuskan tujuan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, namun juga kaya secara spiritual dan emosional. Tidak ada format kaku; yang ada adalah ketulusan dalam mengarahkan potensi murid.
Pendahuluan: Mengapa Tujuan Pembelajaran Harus "Bernyawa"?
Dalam rutinitas dunia pendidikan, kita sering terjebak dalam lingkaran administratif yang dingin. Tujuan Pembelajaran (TP) seringkali dianggap sebagai formalitas belaka—deretan kalimat yang disalin dari dokumen standar untuk memenuhi syarat Modul Ajar. Namun, jika kita berhenti sejenak dan merenung, TP sesungguhnya adalah manifesto masa depan. Ia adalah janji seorang guru kepada Tuhan dan kemanusiaan tentang profil manusia seperti apa yang akan dilahirkan dari rahim kelasnya.
Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) hadir untuk memberikan "nyawa" pada setiap kalimat tujuan tersebut. Di tengah gempuran teknologi kecerdasan buatan dan persaingan global yang pragmatis, pendidikan berisiko kehilangan sisi humanisnya. KBC mengajak kita kembali pada fitrah: bahwa belajar adalah proses mencintai. Mencintai kebenaran, mencintai Sang Pencipta, mencintai sesama, dan mencintai lingkungan hidup.
Insersi KBC ke dalam Tujuan Pembelajaran berarti kita tidak hanya menjawab pertanyaan "Apa yang harus dikuasai murid?", tetapi juga menjawab "Mengapa penguasaan ini penting bagi kemuliaan hidup mereka?". Inilah yang membedakan pendidikan yang sekadar melatih keterampilan dengan pendidikan yang membentuk karakter.
BACA JUGA Informasi Kurikulum Madrasah Terbaru
- 📌 Panduan Lengkap Kurikulum Madrasah Tahun 2025 Terbaru
- 📌 Keputusan Dirjen Pendis No. 6077/2025: Implementasi Materi Pokok Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di Madrasah
- 📌 Keputusan Menteri Agama (KMA) RI Nomor 1503 Tahun 2025: Pedoman Implementasi Kurikulum Madrasah untuk Era Pembelajaran Mendalam
1. Integrasi Lintas Dimensi: Menyatukan Nalar dan Nurani
Tradisi pendidikan modern seringkali memisahkan antara ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik ke dalam kotak-kotak yang terisolasi. Dalam pandangan KBC, pemisahan ini adalah sebuah kekeliruan. Tujuan pembelajaran yang diinsersikan KBC harus mampu menjahit ketiga dimensi ini menjadi satu kesatuan yang utuh (holistik).
Studi Kasus: Mapel Al-Qur’an Hadis (Fase D)
Capaian Pembelajaran (CP): Menerapkan hukum bacaan mad á¹abÄ«‘Ä«, mad far‘Ä«, dan bacaan gharib.
| Aspek | Rumusan Non-KBC | Rumusan Insersi KBC |
|---|---|---|
| Fokus | Hanya Keterampilan Teknis | Teknis + Kesadaran Spiritual |
| Bunyi TP | Menerapkan hukum bacaan Mad dalam Al-Qur'an secara benar. | Menerapkan hukum bacaan Mad dengan tartil sebagai bentuk adab dan penghormatan kepada kalam Allah Swt. |
2. Menghidupkan Panca Cinta dalam Diksi Reflektif
KBC bertumpu pada lima pilar cinta (Panca Cinta). Dalam menyusun TP, pendidik tidak wajib menuliskan kata "Cinta" secara eksplisit di setiap baris, namun esensinya harus terasa dalam pemilihan kata kerja dan keterangan tujuan. Bahasa memiliki kekuatan untuk membentuk realitas mental murid.
Gunakan frasa-frasa yang mendorong introspeksi, seperti:
- Cinta Allah & Rasul: "...sebagai wujud ketaatan dan rasa syukur atas hidayah Al-Qur'an."
- Cinta Diri & Sesama: "...dengan sikap sabar, santun, dan saling menghargai perbedaan."
- Cinta Ilmu: "...dengan penuh ketelitian dan gairah untuk terus memperbaiki diri."
- Cinta Alam: "...sebagai bentuk tanggung jawab menjaga harmoni ciptaan Tuhan."
3. Pergeseran Paradigma: Dari "Knowing" ke "Being"
KBC melampaui sekadar transfer informasi. Pendidikan sejati adalah transformasi keberadaan (being). Oleh karena itu, TP harus disusun untuk menyentuh aspek terdalam manusia. Jika dalam kurikulum konvensional kita fokus pada how to know (bagaimana mengetahui), dalam KBC kita fokus pada how to be (bagaimana menjadi).
"Seorang murid yang mampu menghafal seluruh teori tajwid tetapi tidak memiliki getaran di hatinya saat membaca Al-Qur'an, berarti telah kehilangan esensi dari pendidikan berbasis cinta."
Maka, rumusan TP harus mengarahkan murid untuk merasakan keterhubungan antara materi yang dipelajari dengan identitas mereka sebagai hamba Allah. Misalnya, dalam materi Sains, TP bisa berbunyi: "Menganalisis siklus hidrologi dengan penuh ketakjuban akan keteraturan ciptaan Allah demi menumbuhkan kesadaran pelestarian air."
4. Berorientasi pada Habituasi (Pembiasaan)
KBC adalah kurikulum kehidupan. Pembelajaran tidak boleh berakhir saat bel pulang sekolah berbunyi. Tujuan pembelajaran harus memiliki dampak jangka panjang yang terwujud dalam perilaku sehari-hari (life skills).
Dalam merumuskan TP, pilihlah kata kerja yang mengandung unsur keberlanjutan. Gunakan istilah seperti "Membiasakan," "Menginternalisasi," atau "Mendemonstrasikan secara konsisten." Hal ini memastikan bahwa guru tidak hanya menilai hasil ujian tertulis, tetapi juga melakukan observasi terhadap perubahan karakter murid secara autentik.
5. Estetika Bahasa: Membangun Koneksi Emosional
Diksi yang dingin melahirkan suasana kelas yang kaku. Sebaliknya, diksi yang empatik dan estetik dalam TP akan terbawa ke dalam instruksi guru di kelas. KBC menekankan pentingnya kasih sayang dalam proses pedagogi.
Gunakan kata-kata yang membangun energi positif, seperti:
- Tenang dan Teduh
- Sabar dan Teliti
- Penuh Hormat (Ta'dzim)
- Tanggung Jawab (Amanah)
Dampak Jangka Panjang: Membentuk Generasi Beradab
Ketika seorang guru berhasil merumuskan TP yang berjiwa KBC, maka ia sebenarnya sedang merancang arsitektur masyarakat masa depan. Generasi yang dididik dengan kesadaran bahwa "belajar adalah bentuk cinta" akan menjadi warga negara yang tidak hanya kompeten secara profesional, tetapi juga memiliki integritas moral yang kokoh.
Mereka tidak akan menyalahgunakan ilmu pengetahuan untuk merusak alam atau menindas sesama, karena sejak dalam tujuan pembelajaran, mereka sudah diajarkan bahwa ilmu adalah alat untuk menebar manfaat dan cinta di bumi. Inilah inti dari pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia (humanisasi).
Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)
1. Apa perbedaan utama antara Tujuan Pembelajaran konvensional dengan insersi KBC?
Tujuan Pembelajaran konvensional cenderung fokus pada pencapaian kognitif (penguasaan materi) dan keterampilan teknis saja. Sementara itu, insersi KBC menambahkan dimensi makna dan nilai, sehingga murid tidak hanya tahu "apa" yang dipelajari, tetapi sadar "mengapa" ilmu tersebut penting bagi hubungan mereka dengan Tuhan, sesama, dan alam.
2. Apakah guru harus menyebutkan "Panca Cinta" secara eksplisit dalam setiap TP?
Tidak harus. Yang paling penting adalah ruh atau substansi dari Panca Cinta (Cinta Allah, Rasul, Diri/Sesama, Ilmu, dan Alam) terkandung dalam diksi yang digunakan. Penggunaan frasa seperti "sebagai wujud syukur" atau "dengan penuh tanggung jawab" sudah mewakili nilai-nilai KBC tanpa harus terlihat kaku secara administratif.
3. Bagaimana cara mengukur keberhasilan Tujuan Pembelajaran yang diinsersi KBC?
Keberhasilan KBC diukur melalui Asesmen Autentik. Guru tidak hanya melihat nilai tes tertulis, tetapi melakukan observasi terhadap perubahan perilaku (habituasi), cara berkomunikasi murid yang lebih empatik, serta peningkatan kesadaran spiritual dalam aktivitas sehari-hari di madrasah.
4. Apakah implementasi KBC ini akan menambah beban administratif guru?
Sebaliknya, KBC bertujuan menyederhanakan administrasi dengan memberikan makna pada setiap perangkat ajar yang dibuat. Guru tidak perlu membuat dokumen terpisah; cukup mengintegrasikan nilai cinta ke dalam format Tujuan Pembelajaran (TP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) yang sudah ada dalam Kurikulum Merdeka.
Penutup: Melampaui Administrasi, Menuju Transformasi
Tujuan Pembelajaran adalah titik nol dari perubahan. Dengan menginsersikan nilai-nilai cinta ke dalamnya, kita sedang mengubah nasib bangsa dari ruang-ruang kelas yang sunyi. Mari kita berhenti memandang TP sebagai beban kertas kerja, dan mulailah memandangnya sebagai Manifesto Pendidikan Berbasis Cinta.
Selamat berkarya, para pendidik cahaya. Mari didiklah dengan cinta, agar dunia kembali bercahaya.
.png)
Posting Komentar untuk "Tips Menyusun Tujuan Pembelajaran Insersi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)"